<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>SELAMAT DATANG DI RUMAH GURU-GURU</title>
	<atom:link href="http://pagipgri.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pagipgri.wordpress.com</link>
	<description>Bersatu Untuk Maju (Bersama PGRI Kumai)</description>
	<lastBuildDate>Thu, 04 Sep 2008 06:10:48 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pagipgri.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>SELAMAT DATANG DI RUMAH GURU-GURU</title>
		<link>http://pagipgri.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pagipgri.wordpress.com/osd.xml" title="SELAMAT DATANG DI RUMAH GURU-GURU" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pagipgri.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (1)</title>
		<link>http://pagipgri.wordpress.com/2008/09/04/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-1/</link>
		<comments>http://pagipgri.wordpress.com/2008/09/04/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 06:10:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saleh Suaidy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pagipgri.wordpress.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun kemarin masih berpuasa bersama kita, melakukan shalat tarawih dan idul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang mereka telah berbaring di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=33&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tamu agung itu sebentar lagi akan tiba, sudah siapkah kita untuk menyambutnya? Bisa jadi inilah Ramadhan terakhir kita sebelum menghadap kepada Yang Maha Kuasa. Betapa banyak orang-orang yang pada tahun kemarin masih berpuasa bersama kita, melakukan shalat tarawih dan idul fitri di samping kita, namun ternyata sudah mendahului kita dan sekarang mereka telah berbaring di ‘peristirahatan umum’ ditemani hewan-hewan tanah. Kapankah datang giliran kita?</p>
<p>Dalam dua buah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan kondisi dua golongan yang saling bertolak belakang kondisi mereka dalam berpuasa dan melewati bulan Ramadhan:</p>
<p>Golongan pertama digambarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:</p>
<p>من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه</p>
<p>“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala, maka akan dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)<br />
<span id="more-33"></span><br />
Golongan kedua digambarkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sabdanya:</p>
<p>رب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش</p>
<p>“Betapa banyak orang berpuasa yang hanya memetik lapar dan dahaga.” (HR. Ibnu Majah), al-Hakim dan dia menshahihkannya. Al-Albani berkata: “Hasan Shahih.”</p>
<p>Akan termasuk golongan manakah kita? Hal itu tergantung dengan usaha kita dan taufik dari Allah ta’ala.</p>
<p>Bulan Ramadhan merupakan momentum agung dari ladang-ladang yang sarat dengan keistimewaan, satu masa yang menjadi media kompetisi bagi para pelaku kebaikan dan orang-orang mulia.</p>
<p>Oleh sebab itu, para ulama telah menggariskan beberapa kiat dalam menyongsong musim-musim limpahan kebaikan semacam ini, supaya kita turut merasakan nikmatnya bulan suci ini. Di antara kiat-kiat tersebut (Agar Ramadhan Kita Bermakna Indah, nasihat yang disampaikan oleh Syaikh kami Dr. Ibrahim bin ‘Amir ar-Ruhaili pada malam Jum’at 27 Sya’ban 1423 H di Masjid Dzun Nurain Madinah. Plus penjelasan-penjelasan lain dari penyusun):</p>
<p>Kiat Pertama: Bertawakal kepada Allah Ta’ala</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan, “Dalam menyambut kedatangan musim-musim ibadah, seorang hamba sangat membutuhkan bimbingan, bantuan dan taufik dari Allah ta’ala. Cara meraih itu semua adalah dengan bertawakal kepada-Nya.”</p>
<p>Oleh karena itu, salah satu teladan dari ulama salaf -sebagaimana yang dikisahkan Mu’alla bin al-Fadhl- bahwa mereka berdoa kepada Allah dan memohon pada-Nya sejak enam bulan sebelum Ramadhan tiba agar dapat menjumpai bulan mulia ini dan memudahkan mereka untuk beribadah di dalamnya. Sikap ini merupakan salah satu perwujudan tawakal kepada Allah.</p>
<p>Ibnu Taimiyah menambahkan, bahwa seseorang yang ingin melakukan suatu amalan, dia berkepentingan dengan beberapa hal yang bersangkutan dengan sebelum beramal, ketika beramal dan setelah beramal:</p>
<p>a. Adapun perkara yang dibutuhkan sebelum beramal adalah menunjukkan sikap tawakal kepada Allah dan semata-mata berharap kepada-Nya agar menolong dan meluruskan amalannya. Ibnul Qayyim memaparkan bahwa para ulama telah bersepakat bahwa salah satu indikasi taufik Allah kepada hamba-Nya adalah pertolongan-Nya kepada hamba-Nya. Sebaliknya, salah satu ciri kenistaan seorang hamba adalah kebergantungannya kepada kemampuan diri sendiri.</p>
<p>Menghadirkan rasa tawakal kepada Allah adalah merupakan suatu hal yang paling penting untuk menyongsong musim-musim ibadah semacam ini; untuk menumbuhkan rasa lemah, tidak berdaya dan tidak akan mampu menunaikan ibadah dengan sempurna, melainkan semata dengan taufik dari Allah. Selanjutnya kita juga harus berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan bulan Ramadhan dan supaya Allah membantu kita dalam beramal di dalamnya. Ini semua merupakan amalan yang paling agung yang dapat mendatangkan taufik Allah dalam menjalani bulan Ramadhan.</p>
<p>Kita amat perlu untuk senantiasa memohon pertolongan Allah ketika akan beramal karena kita adalah manusia yang disifati oleh Allah ta’ala sebagai makhluk yang lemah:</p>
<p>وخلق الإنسان ضعيفا</p>
<p>“Dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An-Nisa: 28)</p>
<p>Jika kita bertawakal kepada Allah dan memohon kepada-Nya, niscaya Dia akan memberi taufik-Nya pada kita.</p>
<p>b. Di saat mengerjakan amalan ibadah, poin yang perlu diperhatikan seorang hamba adalah: ikhlas dan mengikuti petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dua hal inilah yang merupakan dua syarat diterimanya suatu amalan di sisi Allah. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan hal ini. Di antaranya: Firman Allah ta’ala,</p>
<p>وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين</p>
<p>“Padahal mereka tidaklah diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)</p>
<p>Dan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>من عمل عملا ليس عليه أمرنا فهو رد</p>
<p>“Barang siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan itu akan tertolak.” (HR. Muslim)</p>
<p>c. Usai beramal, seorang hamba membutuhkan untuk memperbanyak istigfar atas kurang sempurnanya ia dalam beramal, dan juga butuh untuk memperbanyak hamdalah (pujian) kepada Allah Yang telah memberinya taufik sehingga bisa beramal. Apabila seorang hamba bisa mengombinasikan antara hamdalah dan istigfar, maka dengan izin Allah ta’ala, amalan tersebut akan diterima oleh-Nya.</p>
<p>Hal ini perlu diperhatikan betul-betul, karena setan senantiasa mengintai manusia sampai detik akhir setelah selesai amal sekalipun! Makhluk ini mulai menghias-hiasi amalannya sambil membisikkan,<br />
“Hai fulan, kau telah berbuat begini dan begitu… Kau telah berpuasa Ramadhan… Kau telah shalat malam di bulan suci… Kau telah menunaikan amalan ini dan itu dengan sempurna…” Dan terus menghias-hiasinya terhadap seluruh amalan yang telah dilakukan sehingga tumbuhlah rasa ‘ujub (sombong dan takjub kepada diri sendiri) yang menghantarkannya ke dalam lembah kehinaan. Juga akan berakibat terkikisnya rasa rendah diri dan rasa tunduk kepada Allah ta’ala.</p>
<p>Seharusnya kita tidak terjebak dalam perangkap ‘ujub; pasalnya, orang yang merasa silau dengan dirinya sendiri (bisa begini dan begitu) serta silau dengan amalannya berarti dia telah menunjukkan kenistaan, kehinaan dan kekurangan diri serta amalannya.</p>
<p>Hati-hati dengan tipu daya setan yang telah bersumpah:</p>
<p>فبما أغويتني لأقعدن لهم صراطك المستقيم. ثم لآتينهم من بين أيديهم ومن خلفهم وعن أيمانهم وعن شمائلهم</p>
<p>“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka.” (QS. Al-A’raf: 16-17)</p>
<p>Kiat Kedua: Bertaubat Sebelum Ramadhan Tiba</p>
<p>Banyak sekali dalil yang memerintahkan seorang hamba untuk bertaubat, di antaranya: firman Allah ta’ala:</p>
<p>يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحاً عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ</p>
<p>“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. At Tahrim: <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Kita diperintahkan untuk senantiasa bertaubat, karena tidak ada seorang pun di antara kita yang terbebas dari dosa-dosa. Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,</p>
<p>كل بنى آدم خطاء وخير الخطائين التوابون</p>
<p>“Setiap keturunan Adam itu banyak melakukan dosa dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah yang bertaubat.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan isnadnya oleh Syaikh Salim Al Hilal)</p>
<p>Dosa hanya akan mengasingkan seorang hamba dari taufik Allah, sehingga dia tidak kuasa untuk beramal saleh, ini semua hanya merupakan sebagian kecil dari segudang dampak buruk dosa dan maksiat (lihat Dampak-Dampak dari Maksiat dalam kitab Ad-Daa’ Wa Ad-Dawaa’ karya Ibnul Qayyim, dan Adz-Dzunub Wa Qubhu Aatsaariha ‘Ala Al-Afrad Wa Asy-Syu’ub karya Muhammad bin Ahmad Sayyid Ahmad hal: 42-48). Apabila ternyata hamba mau bertaubat kepada Allah ta’ala, maka prahara itu akan sirna dan Allah akan menganugerahi taufik kepadanya kembali.</p>
<p>Taubat nasuha atau taubat yang sebenar-benarnya hakikatnya adalah: bertaubat kepada Allah dari seluruh jenis dosa. Imam Nawawi menjabarkan: Taubat yang sempurna adalah taubat yang memenuhi empat syarat:</p>
<p>1. Meninggalkan maksiat.<br />
2. Menyesali kemaksiatan yang telah ia perbuat.<br />
3. Bertekad bulat untuk tidak mengulangi maksiat itu selama-lamanya.<br />
4. Seandainya maksiat itu berkaitan dengan hak orang lain, maka dia harus mengembalikan hak itu kepadanya, atau memohon maaf darinya (Lihat: Riyaadhush Shaalihiin, karya Imam an-Nawawi hal: 37-38)</p>
<p>Ada suatu kesalahan yang harus diwaspadai: sebagian orang terkadang betul-betul ingin bertaubat dan bertekad bulat untuk tidak berbuat maksiat, namun hanya di bulan Ramadhan saja, setelah bulan suci ini berlalu dia kembali berbuat maksiat. Sebagaimana taubatnya para artis yang ramai-ramai berjilbab di bulan Ramadhan, namun setelah itu kembali ‘pamer aurat’ sehabis idul fitri.</p>
<p>Ini merupakan suatu bentuk kejahilan. Seharusnya, tekad bulat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa dan berlepas diri dari maksiat, harus tetap menyala baik di dalam Ramadhan maupun di bulan-bulan sesudahnya.</p>
<p>Kiat Ketiga: Membentengi Puasa Kita dari Faktor-Faktor yang Mengurangi Keutuhan Pahalanya</p>
<p>Sisi lain yang harus mendapatkan porsi perhatian spesial, bagaimana kita berusaha membentengi puasa kita dari faktor-faktor yang mengurangi keutuhan pahalanya. Seperti menggunjing dan berdusta. Dua penyakit ini berkategori bahaya tinggi, dan sedikit sekali orang yang selamat dari ancamannya.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan:</p>
<p>من لم يدع قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه</p>
<p>“Barang siapa yang tidak meninggalkan kata-kata dusta dan perbuatannya, maka niscaya Allah tidak akan membutuhkan penahanan dirinya dari makanan dan minuman (tidak membutuhkan puasanya).” (HR. Bukhari)</p>
<p>Jabir bin Abdullah menyampaikan petuahnya:</p>
<p>إذا صمت فليصم سمعك وبصرك ولسانك عن الكذب والمحارم ودع أذى الجار, وليكن عليك وقار وسكينة يوم صومك, ولا تجعل يوم صومك ويوم فطرك سواء</p>
<p>“Seandainya kamu berpuasa maka hendaknya pendengaranmu, penglihatanmu dan lisanmu turut berpuasa dari dusta dan hal-hal haram dan janganlah kamu menyakiti tetangga. Bersikap tenang dan berwibawalah di hari puasamu. Janganlah kamu jadikan hari puasamu dan hari tidak berpuasamu sama.” (Lathaa’if al-Ma’arif, karya Ibnu Rajab al-Hambali, hal: 292)</p>
<p>Orang yang menahan lisannya dari ghibah dan matanya dari memandang hal-hal yang haram ketika berpuasa Ramadhan tanpa mengiringinya dengan amalan-amalan sunnah, lebih baik daripada orang yang berpuasa plus menghidupkan amalan-amalan sunnah, namun dia tidak berhenti dari dua budaya buruk tadi! Inilah realita mayoritas masyarakat; ketaatan yang bercampur dengan kemaksiatan.</p>
<p>Umar bin Abdul ‘Aziz pernah ditanya tentang arti takwa, “Takwa adalah menjalankan kewajiban dan meninggalkan perbuatan haram”, jawab beliau. Para ulama menegaskan, “Inilah ketakwaan yang sejati. Adapun mencampur adukkan antara ketaatan dan kemaksiatan, maka ini tidak masuk dalam bingkai takwa, meski dibarengi dengan amalan-amalan sunnah.”</p>
<p>Oleh sebab itu para ulama merasa heran terhadap sosok yang menahan diri (berpuasa) dari hal-hal yang mubah, tapi masih tetap gemar terhadap dosa. Ibnu Rajab al-Hambali bertutur, “Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri dari hal-hal mubah dan hal-hal yang terlarang. Mengekang diri dari makanan, minuman dan jima’ (hubungan suami istri), ini sebenarnya hanya sekedar menahan diri dari hal-hal mubah yang diperbolehkan. Sementara itu ada hal-hal terlarang yang tidak boleh kita langgar baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya. Di bulan suci ini tentunya larangan tersebut menjadi lebih tegas. Maka sungguh sangat mengherankan kondisi orang yang berpuasa (menahan diri) dari hal-hal yang pada dasarnya diperbolehkan seperti makan dan minum, kemudian dia tidak berpuasa (menahan diri) dan tidak berpaling dari perbuatan-perbuatan yang diharamkan di sepanjang zaman seperti ghibah, mengadu domba, mencaci, mencela, mengumpat dan lain-lain. Semua ini merontokkan ganjaran puasa.”</p>
<p>-bersambung insya Allah-</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc.<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pagipgri.wordpress.com/33/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pagipgri.wordpress.com/33/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pagipgri.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pagipgri.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pagipgri.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pagipgri.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pagipgri.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pagipgri.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pagipgri.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pagipgri.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pagipgri.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pagipgri.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pagipgri.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pagipgri.wordpress.com/33/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pagipgri.wordpress.com/33/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pagipgri.wordpress.com/33/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=33&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pagipgri.wordpress.com/2008/09/04/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f56ce462353462016bb6c0e2d719649?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madaniyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Agar Kita Turut Merasakan Indahnya Ramadhan (2)</title>
		<link>http://pagipgri.wordpress.com/2008/09/04/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-2/</link>
		<comments>http://pagipgri.wordpress.com/2008/09/04/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Sep 2008 06:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Saleh Suaidy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pagipgri.wordpress.com/?p=36</guid>
		<description><![CDATA[Kiat Keempat: Memprioritaskan Amalan yang Wajib Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi, bahwa Allah ta’ala berfirman: وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه “Dan tidaklah seseorang mendekatkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=36&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kiat Keempat: Memprioritaskan Amalan yang Wajib</p>
<p>Hendaknya orang yang berpuasa itu memprioritaskan amalan yang wajib. Karena amalan yang paling dicintai oleh Allah ta’ala adalah amalan-amalan yang wajib. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan dalam suatu hadits qudsi, bahwa Allah ta’ala berfirman:</p>
<p>وما تقرب إلي عبدي بشيء أحب إلي مما افترضت عليه</p>
<p>“Dan tidaklah seseorang mendekatkan diri kepada-Ku dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada amalan-amalan yang Ku-wajibkan.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Di antara aktivitas yang paling wajib dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah: mendirikan shalat berjamaah lima waktu di masjid (bagi kaum pria), berusaha sekuat tenaga untuk tidak ketinggalan takbiratul ihram. Telah diuraikan dalam sebuah hadits:</p>
<p>من صلى لله أربعين يوما في جماعة يدرك التكبيرة الأولى كتب له براءتان: براءة من النار وبراءة من النفاق</p>
<p>“Barang siapa yang shalat karena Allah selama empat puluh hari dengan berjama’ah dan selalu mendapatkan takbiratul ihram imam, akan dituliskan baginya dua ‘jaminan surat kebebasan’ bebas dari api neraka dan dari nifaq.” (HR. Tirmidzi dan dihasankan oleh Syaikh al-Albani)<span id="more-36"></span><br />
Seandainya kita termasuk orang-orang yang amalan sunnahnya tidak banyak pada bulan puasa, maka setidaknya kita berusaha untuk memelihara shalat lima waktu dengan baik, dikerjakan secara berjamaah di masjid, serta berusaha sesegera mungkin berangkat ke masjid sebelum tiba waktunya. Sesungguhnya menjaga amalan-amalan yang wajib di bulan Ramadhan adalah suatu bentuk ibadah dan taqarrub yang paling agung kepada Allah.</p>
<p>Sungguh sangat memprihatinkan, tatkala kita dapati orang yang melaksanakan shalat tarawih dengan penuh semangat, bahkan hampir-hampir tidak pernah absen, namun yang disayangkan, ternyata dia tidak menjaga shalat lima waktu dengan berjamaah. Terkadang bahkan tidur, melewatkan shalat wajib dengan dalih sebagai persiapan diri untuk shalat tarawih!!? Ini jelas-jelas merupakan suatu kejahilan dan bentuk peremehan terhadap kewajiban! Sungguh hanya mendirikan shalat lima waktu berjamaah tanpa diiringi dengan shalat tarawih satu malam, lebih baik daripada mengerjakan shalat tarawih atau shalat malam, namun berdampak menyia-nyiakan shalat lima waktu. Bukan berarti kita memandang sebelah mata terhadap shalat tarawih, akan tetapi seharusnya seorang muslim menggabungkan kedua-duanya; memberikan perhatian khusus terhadap amalan-amalan yang wajib seperti shalat lima waktu, lalu baru melangkah menuju amalan-amalan yang sunnah seperti shalat tarawih.</p>
<p>Kiat Kelima: Berusaha untuk Mendapatkan Lailatul Qadar</p>
<p>Setiap muslim di bulan berkah ini berusaha untuk bisa meraih lailatul qadar. Dialah malam diturunkannya Al-Qur’an (QS. Al-Qadar: 1, dan QS. Ad-Dukhan: 3), dialah malam turunnya para malaikat dengan membawa rahmat (QS. Al-Qadar: 4), dialah malam yang berbarakah (QS. Ad-Dukhan: 3), dialah malam yang lebih utama daripada ibadah seribu bulan! (83 tahun plus 4 bulan) (QS. Al-Qadar: 3). Barang siapa yang beribadah pada malam ini dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni oleh-Nya (HR. Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Mendengar segunung keutamaan yang dimiliki malam mulia ini, seyogyanya seorang muslim memanfaatkan kesempatan emas ini untuk meraihnya.</p>
<p>Di malam ke berapakah lailatul qadar akan jatuh?</p>
<p>Malam lailatul qadar akan jatuh pada malam-malam sepuluh akhir bulan Ramadhan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan:</p>
<p>تحروا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان</p>
<p>“Carilah lailatul qadar pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Tepatnya pada malam-malam yang ganjil di antara malam-malam yang sepuluh tersebut, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:</p>
<p>تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان</p>
<p>“Carilah lailatul qadar pada malam-malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari)</p>
<p>Tapi di malam manakah di antara malam-malam yang ganjil? Apakah di malam 21, malam 23, malam 25, malam 27 atau malam 29? Pernah di suatu tahun pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lailatul qadar jatuh pada malam 21, sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Sa’id al-Khudri bahwa di pagi hari tanggal 21 Ramadhan tahun itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:</p>
<p>إني أريت ليلة القدر</p>
<p>“Sesungguhnya aku diperlihatkan lailatul qadar (malam tadi).” (HR.Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Pernah pula di suatu tahun lailatul qadar jatuh pada malam 27. Ubai bin Ka’ab berkata:</p>
<p>والله إني لأعلمها وأكثر علمي هي الليلة التي أمرنا رسول الله صلى الله عليه وسلم بقيامها هي ليلة سبع وعشرين</p>
<p>“Demi Allah aku mengetahuinya (lailatul qadar), perkiraan saya yang paling kuat dia jatuh pada malam yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bangun malam di dalamnya, yaitu malam dua puluh tujuh.” (HR. Muslim)</p>
<p>Pada tahun yang lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya untuk mencari lailatul qadar pada tujuh malam terakhir dari bulan Ramadhan:</p>
<p>فمن كان متحريها فليتحرها في السبع الأواخر</p>
<p>“Barang siapa yang ingin mencarinya (lailatul qadar) hendaklah ia mencarinya pada tujuh malam terakhir (dari bulan Ramadhan).” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Cara memadukan antara hadits-hadits tersebut di atas: dengan mengatakan bahwa lailatul qadar setiap tahunnya selalu berpindah-pindah dari satu malam yang ganjil ke malam ganjil lainnya, akan tetapi tidak keluar dari sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhan (Lihat Fathul Baari karya Ibnu Hajar, dan Asy-Syarh al-Mumti’ karya Syaikh al-Utsaimin (6/493-495))</p>
<p>Di antara hikmah dirahasiakannya waktu lailatul qadar adalah:</p>
<p>1. Agar amal ibadah kita lebih banyak. Sebab dengan dirahasiakannya kapan waktu lailatul qadar, kita akan terus memperbanyak shalat, dzikir, doa dan membaca Al-Qur’an di sepanjang malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan terutama malam yang ganjil.<br />
2. Sebagai ujian dari Allah ta’ala, untuk mengetahui siapa di antara para hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam mencari lailatul qadar dan siapa yang bermalas-malasan serta meremehkannya (Majaalisu Syahri Ramadhaan, karya Syaikh al-’Utsaimin hal: 163)</p>
<p>Maka seharusnya kita berusaha maksimal pada sepuluh hari itu; menyibukkan diri dengan beramal dan beribadah di seluruh malam-malam itu agar kita bisa menggapai pahala yang agung itu. Mungkin saja ada orang yang tidak berusaha mencari lailatul qadar melainkan pada satu malam tertentu saja dalam setiap Ramadhan dengan asumsi bahwa lailatul qadar jatuh pada tanggal ini atau itu, walaupun dia berpuasa Ramadhan selama 40 tahun, barangkali dia tidak akan pernah sama sekali mendapatkan momen emas itu. Selanjutnya penyesalan saja yang ada…</p>
<p>Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan teladan:</p>
<p>(كان النبي صلى الله عليه وسلم إذا دخل العشر شد مئزره وأحيا ليله وأيقظ أهله) متفق عليه</p>
<p>“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika memasuki sepuluh (terakhir Ramadhan) beliau mengencangkan ‘ikat pinggangnya’, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Kiat Keenam: Jadikan Ramadhan Sebagai Madrasah untuk Melatih Diri Beramal Saleh, yang Terus Dibudayakan Setelah Berlalunya Bulan Suci Ini</p>
<p>Bulan Ramadhan ibarat madrasah keimanan, di dalamnya kita belajar mendidik diri untuk rajin beribadah, dengan harapan setelah kita tamat dari madrasah itu, kebiasaan rajin beribadah akan terus membekas dalam diri kita hingga kita menghadap kepada Yang Maha Kuasa.</p>
<p>Allah ta’ala memerintahkan:</p>
<p>واعبد ربك حتى يأتيك اليقين</p>
<p>“Dan sembahlah Rabbmu sampai ajal datang kepadamu.” (QS. Al-Hijr: 99)</p>
<p>Tatkala al-Hasan al-Bashri membaca ayat ini beliau menjelaskan,</p>
<p>إن الله لم يجعل لعمل المؤمن أجلا دون الموت</p>
<p>“Sesungguhnya Allah tidak menjadikan batas akhir bagi amal seorang Mukmin melainkan ajalnya.”</p>
<p>Maka jangan sampai amal ibadah kita turut berakhir dengan berakhirnya bulan Ramadhan. Kebiasaan kita untuk berpuasa, shalat lima waktu berjamaah di masjid, shalat malam, memperbanyak membaca Al-Qur’an, doa dan zikir, rajin menghadiri majelis taklim dan gemar bersedekah di bulan Ramadhan, mari terus kita budayakan di luar Ramadhan.</p>
<p>كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس, وكان أجود ما يكون في رمضان</p>
<p>“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan sekali di bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari dan Muslim)</p>
<p>Ulama salaf pernah ditanya tentang sebagian orang yang rajin beribadah di bulan Ramadhan, namun jika bulan suci itu berlalu mereka pun meninggalkan ibadah-ibadah tersebut? Dia pun menjawab:</p>
<p>بئس القوم لا يعرفون الله إلا في رمضان</p>
<p>“Alangkah buruknya tingkah mereka, mereka tidak mengenal Allah melainkan hanya di bulan Ramadhan!”</p>
<p>Merupakan ciri utama diterimanya puasa kita di bulan Ramadhan dan tanda terbesar akan keberhasilan kita meraih lailatul qadar adalah: berubahnya diri kita menjadi lebih baik daripada kondisi kita sebelum Ramadhan.</p>
<p>Wallahu ta’ala a’lam wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammadin wa ‘ala alihi wa shabihi ajma’in.</p>
<p>***</p>
<p>Penulis: Ustadz Abdullah Zaen, Lc.<br />
Artikel www.muslim.or.id</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pagipgri.wordpress.com/36/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pagipgri.wordpress.com/36/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pagipgri.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pagipgri.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pagipgri.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pagipgri.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pagipgri.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pagipgri.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pagipgri.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pagipgri.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pagipgri.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pagipgri.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pagipgri.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pagipgri.wordpress.com/36/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pagipgri.wordpress.com/36/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pagipgri.wordpress.com/36/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=36&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pagipgri.wordpress.com/2008/09/04/agar-kita-turut-merasakan-indahnya-ramadhan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6f56ce462353462016bb6c0e2d719649?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">madaniyah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEBANGKITAN GURU, KEBANGKRUTAN BAGI PENGUASA   DAN BENTUK AROGANSI KEKUASAAN  (Selamat Ulang Tahun ke-62 PGRI)</title>
		<link>http://pagipgri.wordpress.com/2007/11/29/kebangkitan-guru-kebangkrutan-bagi-penguasa-dan-bentuk-arogansi-kekuasaan-selamat-ulang-tahun-ke-62-pgri/</link>
		<comments>http://pagipgri.wordpress.com/2007/11/29/kebangkitan-guru-kebangkrutan-bagi-penguasa-dan-bentuk-arogansi-kekuasaan-selamat-ulang-tahun-ke-62-pgri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Nov 2007 03:45:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PGRI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pagipgri.wordpress.com/2007/11/29/kebangkitan-guru-kebangkrutan-bagi-penguasa-dan-bentuk-arogansi-kekuasaan-selamat-ulang-tahun-ke-62-pgri/</guid>
		<description><![CDATA[Penguasa-penguasa negeri yang telah sangat mengerti namun masih setengah hati untuk menempatkan pendidikan sebagai basis utama bagi kemajuan bangsa, akan terus menjadi batu sandungan tersendiri bagi kemajuan pada satuan-satuan institusi pendidikan, termasuk di dalamnya ‘guru’ yang mestinya ditempatkan sebagai aset terdepan dalam pembangunan bangsa. Bila tidak ada komitmen &#38; keberpihakan yang tulus terhadap dunia pendidikan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=18&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penguasa-penguasa negeri yang telah sangat mengerti namun masih setengah hati untuk menempatkan pendidikan sebagai basis utama bagi kemajuan bangsa, akan terus menjadi batu sandungan tersendiri bagi kemajuan pada satuan-satuan institusi pendidikan, termasuk di dalamnya ‘guru’ yang mestinya ditempatkan sebagai aset terdepan dalam pembangunan bangsa. Bila tidak ada komitmen &amp; keberpihakan yang tulus terhadap dunia pendidikan, sampai kapanpun perang pernyataan, salah-menyalahkan, ancam-mengancam akan terus berlanjut dengan makin membesarnya permasalahan tanpa ada solusi secara tuntas.<br />
Manajemen pendidikan semestinya berlangsung dalam kondisi kehidupan pendidikan dengan budaya kebersamaan dan bukan dalam suasana komando atau arahan, budaya fungsional bukan struktural, kolegial bukan hierarkhis, porofesioanal bukan <span id="more-18"></span>budaya kekuasaan. Sebab manajemen pendidikan berbeda jauh dengan manajemen pemerintahan atau bisnis, atau militer, guru tidak seharusnya secara penuh diperlakukan sebagai bawahan yang kadang-kadang terhimpit dengan aturan birokrasi yang menyulitkan untuk melaksanakan tugas profesionanya. Mereka mestinya diberlakukan sebagai insan pendidikan, dan dipandang sebagai mitra dan diberikan otonomi pedagogis dalam batas kewenangan profesi.<br />
Pada awalnya reformasi telah memberikan arah pembenahan system secara utuh, secara tekstual mungkin ‘ya’ dilihat dari sisi konstitusi, namun pada kenyataan dan pada tatanan implementatif, pendidikan masih dilangsungkan dalam paradigma lama (pemerintahan) yang bersifat birokrasi otorat, atau mungkin juga ada unsur-unsur bisnis dengan paradigma ekonomis (mencari keuntungan finansial), atau paradigma militer dengan ditandai kentalnya komando-komando birokrasi, dan paradigma politik (untuk mengambil simpati politis). Sehingga belum terasa niat tulus untuk menempatkan pendidikan sebagai basis dan guru sebagai asset bagi kemajuan bangsa.<br />
Otonomi Daerah mengamanatkan disentralisasi pula pada sentra pendidikan, sehingga sistem manajemen harus memberikan jaminan agar para guru mendapat perlakuan proporsioal sebagai unsur pelaksana pendidikan khususnya di tingkat institusional dan instruksional. Momentum disentralistik juga mestinya memberikan pendewasaan bagi pemegang kekuasaan untuk memperhatikan system rekrutmen yag tepat, promosi jabatan atau penghargaan, jaminan social, pendidikan &amp; kesehatan serta tugas belajar.<br />
Terngiang ditelinga guru, betapa guru mendapatkan porsi anggaran yang cukup signifikan dalam sistim penggajian, jika mereka lulus sertifikasi. Sementara sebagian guru yang lain menggerutu, betapa setengah hatinya penguasa negeri ini, hingga memberikan beban baru lagi bagi guru jika ingin mendapatkan gaji yang lebih besar, belum selesai dengan permasalahan porsi bimbingan belajar yang banyak, penyelesaian administrasi pembelajaran &amp; penilain, tuntutan pengabdian social masyarakat, organisasi dan tetek bengek semua-semuanya yang harus dimiliki guru untuk mendapatkan hanya satu kali gaji pokok. Sehingga ada benarnya jika teman seprofesi saya yang kaya berkata, untuk apa saya harus ikut sertifikasi, kalau hanya menyita kerja sampingan saya yang jauh lebih menguntungkan, kalau juga penguasa negeri ini mau memberikan ‘tentu akan banyak menyita pos anggaran sehingga merugikan (mengurangi pendapatan) bagi ‘tikus-tikus kantor’’ (baca: oknum kata Iwan Fals)<br />
Guru sebagai tenaga professional dan asset bangsa, tidak patut jika terus mengeluh dengan hal-hal seperti ini, sebab guru merupakan pendidik yang mempunyai jabatan sangat strategis dalam menunjang proses dan hasil kinerja institusi kependidikan secara keseluruhan, yang berarti bahwa kinerja seorang guru akan banyak memberikan pengaruh bagi terciptanya output (anak bangsa yang terampil &amp; berkualitas) pada lembaga pendidikan secara efektif.<br />
PGRI sebagai organisasi profesi yang telah cukup berumur, tentunya sudah sangat dewasa untuk berjuang merebut hak-hak masyarakat untuk mendapatkan kualitas pendidikan maju, karena PGRI sudah melewati beragam paradigma dan sangat kenyang dengan gonta-ganti kebijakan. Sebagus apapun paradigma &amp; kebijakan, tidak akan memberikan hasil optimal, sepanjang guru tidak dapat terus mengembangkan komptensi disamping  mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kreatifitasnya melalui otonomisasi pedagogis dalam kemandirian memerankan fungsinya secara proporsional dan professional.<br />
Guru yang saya maksudkan memerankan fungsinya secara proporsional dan profesional, yaitu:<br />
-	Yang memiliki semangat juang yang tinggi diserta kualitas keimanan dan ketakwaan yang mantap,<br />
-	Terus meningkatkan kemampuan dan pengetahuan (kompetensi) sesuai dengan bidang spesifikasi tugas dan tuntutan lingkungan dan perkembangan iptek diserta etos kerja yang kuat,<br />
-	Arif dan berwawasan ke depan,<br />
-	dan terakhir mudahan bisa terwujud, yakni memiliki kualitas dan kuantitas kesejahteraan yang memadai lahir &amp; bathin (material &amp; non material) sebagai kebutuhan hakiki individu.<br />
Untuk semua itu, maka dibutuhkan adanya kemauan dan komitmen social serta politik dari segenap pihak, baik legeslatif maupun eksekutif, PGRI dan Guru itu sendiri dalam rangka menyongsong era teknologi &amp; komunikasi dengan peningkatan kualitas SDM diri dan lulusan, demi terciptanya bangsa yang unggul di mata dunia.<br />
DI HARI ULANG TAHUN YANG KE – 62 PGRI ini, mari kita satukan visi, untuk berjuang bersama memajukan bangsa. “sejahtera bangsa, sejahtera guru”<br />
Selamat Ulang Tahun PGRI, dan Selamat Berjuang…..</p>
<p>Ditulis Oleh :<br />
Nama	: Muhammad Saleh Suaidy, S.PdI<br />
Alamat	: Jl. H.M. Taher Rt. 16 No. 61 Kumai Hilir Kec. Kumai<br />
Telpon/HP	: (0532) 62066 / 085252 – 844 – 344</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pagipgri.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pagipgri.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pagipgri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pagipgri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pagipgri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pagipgri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pagipgri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pagipgri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pagipgri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pagipgri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pagipgri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pagipgri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pagipgri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pagipgri.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pagipgri.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pagipgri.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=18&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pagipgri.wordpress.com/2007/11/29/kebangkitan-guru-kebangkrutan-bagi-penguasa-dan-bentuk-arogansi-kekuasaan-selamat-ulang-tahun-ke-62-pgri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8000ff9a39b51fd0dba25c9beb92cdb0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Guru Kumai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jujur, Adil, dan Ihsan</title>
		<link>http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/22/jujur-adil-dan-ihsan/</link>
		<comments>http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/22/jujur-adil-dan-ihsan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 22 Sep 2007 18:30:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PGRI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/22/jujur-adil-dan-ihsan/</guid>
		<description><![CDATA[Ada sebuah anekdot. Tersebutlah konon seorang Badui (bukan yang dari negeri Arab, melainkan yang dari Jawa Barat) dalam perjalanannya berjalan kaki kemalaman di sebuah dusun. Ia menumpang bermalam pada sebuah rumah di dusun itu. Yang empunya rumah menyodorkan bantal ke kepala tamunya itu. Orang Badui itu memindahkan bantal tersebut dari kepala ke kakinya. Ibarat kata [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=11&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada sebuah anekdot. Tersebutlah konon seorang Badui (bukan yang dari negeri Arab, melainkan yang dari Jawa Barat) dalam perjalanannya berjalan kaki kemalaman di sebuah dusun. Ia menumpang bermalam pada sebuah rumah di dusun itu. Yang empunya rumah menyodorkan bantal ke kepala tamunya itu. Orang Badui itu memindahkan bantal tersebut dari kepala ke kakinya. Ibarat kata pepatah, orang mengantuk disorongkan bantal, maka dengan segera orang Badui itu terlelap. Yang empunya rumah terheran-heran melihat orang Badui yang tidur lelap itu dengan kedua kakinya yang berbantal. Pagi-pagi keesokan<span id="more-11"></span> harinya pada waktu menyuguhkan sarapan pagi ala kadarnya, yang empunya rumah bertanya kepada tamunya itu.<br />
- Sobat, apakah memang demikian adat kebiasaan di kampung tempat asalmu, kedua kaki yang berbantal, bukan kepala?<br />
- Sebenarnya adat kebiasaan di kampung asal saya sama juga dengan adat kebiasaan orang di sini, kepala yang berbantal. Akan tetapi demi keadilan, karena kaki yang penat berjalan kaki sejauh itu, maka kakilah yang harus menikmati bantal. Kaki telah lebih banyak melaksanakan kewajibannya, sehingga kaki lebih berhak ketimbang kepala diberi berbantal, jawab orang Badui itu.<br />
- Oh, ya, itulah keadilan ditinjau dari segi keseimbangan antara hak dengan kewajiban, bergumam yang empunya rumah sambil manggut-manggut. Kata-katanya itu lebih ditujukan kepada dirinya sendiri ketimbang kepada tamunya itu.<br />
Apakah sesungguhnya yang disebut adil itu?! Adil adalah menempatkan sesuatu pada tempatnya dan mengeluarkan atau memindahkan sesuatu dari tempat yang bukan pada tempatnya. Orang Badui itu menempatkan bantal itu pada tempatnya yaitu di kaki dan memindahkan bantal itu dari kepala yang bukan pada tempatnya, berhubung karena kaki lebih banyak menjalankan kewajibannya. Dalam hal ini kriteria yang dipakai untuk berlaku adil adalah keseimbangan antara kewajiban dengan hak.<br />
Isu hak asasi manusia (HAM) sedang merebak sekarang ini. Dilihat dari segi kriteria keseimbangan antara kewajiban dengan hak, maka gerakan organisasi internasional perihal HAM ini tidaklah adil. Hanya getol dalam hal melancarkan hak asasi, tidak pernah kedengaran organisasi HAM ini bergerak dalam hal kewajiban asasi manusia (KAM).<br />
Sesungguhnya ada organisasi yang bergerak dalam bidang kewajiban asasi manusia ini, akan tetapi tidaklah secara demonstratif mempergunakan ungkapan kewajiban asasi ini. Organisasi yang dimaksud itu adalah organisasi yang bergerak dalam lapangan da&#8217;wah. Hanya orang-orang yang beriman kepada Allah yang dapat membentuk organisasi yang bergerak dalam hal KAM dan sekaligus HAM. Firman Allah:<br />
Wa Ma- Khalaqtu lJinna walInsa Illa- liYa&#8217;buduwni (S. AdzDza-riyat, 56), tidaklah Aku jadikan jinn dan manusia, melainkan mereka mengabdi kepadaKu (51:56).<br />
Mengabdi kepada Allah SWT, itulah kewajiban asasi dan sekaligus hak asasi manusia. Maka tidaklah mungkin organisasi internasional yang bergerak dalam HAM ini akan berlaku adil dengan bergerak pula di bidang KAM, oleh karena pendiri ataupun orang-orang yang aktif dalam organisasi internasional itu adalah mereka penganut humanisme yang tidak mau tahu, bahkan ada yang tidak percaya kepada Allah SWT.<br />
Kriteria keseimbangan antara kewajiban dengan hak bukanlah satu-satunya kriteria untuk berbuat adil. Buruh mengeluarkan keringat lebih banyak, artinya bekerja lebih keras dari mandur, akan tetapi gaji mandur lebih tinggi dari buruh. Sepintas lalu ini kelihatannya tidak adil. Kriteria yang dipakai di sini dalam hal menempatkan sesuatu pada tempatnya, adalah tanggung jawab. Tanggung jawab mandur lebih besar dari buruh, itulah sebabnya gajinya lebih tinggi.<br />
Seorang bapak yang memandang warna kuning yang paling indah, membelikan semua anaknya pakaian baru berwarna kuning menjelang lebaran. Bapak itu menyangka sudah berlaku adil pada anak-anaknya, tidak memilih kasih salah seorang di antaranya, karena ia telah memberikan warna yang paling indah kepada semuanya. Akan tetapi sebenarnya sang bapak tidak berlaku adil, karena ada beberapa orang anaknya yang tidak senang pada warna kuning, sehingga mereka merasa tidak diperlakukan dengan adil. Dalam hal ini kriteria untuk berlaku adil adalah selera.<br />
Seorang ibu memberikan uang saku yang sama banyak kepada anak-anaknya. Sang ibu sudah menyangka berlaku adil, tidak memilih kasih salah seorang di antaranya, semua mendapat bagian yang sama banyak. Akan tetapi sebenarnya sang ibu tidak berlaku adil oleh karena anaknya itu ada yang mahasiswa, ada yang masih di sekolah menengah bahkan masih ada yang di taman kanak-kanak. Dalam hal ini kriteria yang harus dipergunakan oleh sang ibu adalah kebutuhan.<br />
Tidaklah yang menempuh ujian itu harus lulus semuanya. Yang luluspun tidak semuanya akan mendapatkan nilai yang sama. Kriteria keadilan dalam hal ini adalah kesanggupan.<br />
Karena bermacam-macamnya kriteria dalam hal berbuat adil, maka untuk menentukan kriteria yang tepat haruslah jujur. Orang yang tidak jujur tidak mungkin dapat berbuat adil.<br />
Khutbah kedua dalam khutbah Jum&#8217;at biasanya ditutup dengan S. An Nahl, 90: InnaLlaha Ya&#8217;muru bil&#8217;Adli walIhsa-ni, sesungguhnya Allah memerintahkan berbuat adil dan ihsan (16:90).<br />
Apa pula yang disebut ihsan? Yaitu mereka yang dengan ikhlas memberikan kepada orang lain hak yang berlebihan atau memilih kewajibannya lebih besar dari haknya. Contohnya, bapak-bapak dengan ikhlas memberikan hak kepada ibu-ibu adanya Hari Ibu dengan tidak menuntut adanya Hari Bapak. Seorang suami yang dengan ikhlas mengganti popok bayinya. Bukankah mengganti popok itu kewajiban sang isteri? Sang suami menambah kewajibannya mengganti popok, karena bayinya menangis-nangis, pada hal sang isteri sedang berkadahajat di WC. WaLlahu A&#8217;lamu bi shShawab.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pagipgri.wordpress.com/11/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pagipgri.wordpress.com/11/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pagipgri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pagipgri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pagipgri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pagipgri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pagipgri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pagipgri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pagipgri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pagipgri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pagipgri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pagipgri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pagipgri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pagipgri.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pagipgri.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pagipgri.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=11&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/22/jujur-adil-dan-ihsan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8000ff9a39b51fd0dba25c9beb92cdb0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Guru Kumai</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>“Guru Kebenaran” (Kebetulan dapat ‘Undian’)</title>
		<link>http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/21/%e2%80%9cguru-kebenaran%e2%80%9d-kebetulan-dapat-%e2%80%98undian%e2%80%99/</link>
		<comments>http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/21/%e2%80%9cguru-kebenaran%e2%80%9d-kebetulan-dapat-%e2%80%98undian%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Sep 2007 06:15:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PGRI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/21/%e2%80%9cguru-kebenaran%e2%80%9d-kebetulan-dapat-%e2%80%98undian%e2%80%99/</guid>
		<description><![CDATA[Bapak, Ibu dan rekan pengunjung blog yang terhormat, Mohon ma’af kalau saya berjanji akan bikinkan blog PGRI Kecamatan Kamai sudah 1 bulan yang lalu, Agustus 2007, ternyata baru hari ini bisa terlaksana (21 September 2007). Rekan PGRI yang saya hormati, mohon dukungan kita bersama, terutama kepada Bapak Ketua (Ahmadun, S.PdI) Bapak Sekum (Chaidir, S.Ag.) Bapak/ibu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=3&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bapak, Ibu dan rekan pengunjung blog yang terhormat,<br />
Mohon ma’af kalau saya berjanji akan bikinkan blog PGRI Kecamatan Kamai sudah 1 bulan yang lalu, Agustus 2007, ternyata baru hari ini bisa terlaksana (21 September 2007).<br />
Rekan PGRI yang saya hormati, mohon dukungan kita bersama, terutama kepada Bapak Ketua (Ahmadun, S.PdI) Bapak Sekum (Chaidir, S.Ag.) Bapak/ibu rekan di Sekretaris Bidang Komunikasi &amp; Informasi: Bapak Welly Ediyanto, S.Pd, Bapak Ali Hanafiah, S.Pd., Bapak Maryadi, A.MPd dan Ibu Rina Sari Dewi, A.Ma.<br />
Sesuai tujuan awal dari pembuatan Blog ini, adalah untuk memuat ‘informasi dari dan untuk kita’, maka oleh karenanya kami berharap semoga semua komponen pengurus PGRI dapat menjadi user pada blog ini, dan pada saatnya nanti menjadi BLOG yang sarat akan MUTU dan PENGUNJUNG.<br />
Mudahan setelah ini &#8230;. <!--selanjutnya klik ini-->dapat kita terbitkan lagi Bulletin Bulanan/Mingguan, sebagai hasil dari karya Komunitas Guru di Kecamatan Kumai Khususnya. Terutama Tulisan-tulisan yang termuat, hangat dan bermutu pada BLOG ini.<br />
Selamat berjuang untuk menjadi “Guru Beneran” (Guru yang Profesional) Bukan “Guru Kebenaran” (Kebetulan dapat ‘Undian’) ……………… dan bukan pula “Guru yang Keluyuran” (Nyari Samperan pada jamnya Siswa Belaja-an) ……</p>
<p>Wassalam<br />
Sekretaris Bidang Kom.Info<br />
Muhammad Saleh Suaidy, S.PdI</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pagipgri.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pagipgri.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pagipgri.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pagipgri.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pagipgri.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pagipgri.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pagipgri.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pagipgri.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pagipgri.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pagipgri.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pagipgri.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pagipgri.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pagipgri.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pagipgri.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pagipgri.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pagipgri.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pagipgri.wordpress.com&amp;blog=1761882&amp;post=3&amp;subd=pagipgri&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pagipgri.wordpress.com/2007/09/21/%e2%80%9cguru-kebenaran%e2%80%9d-kebetulan-dapat-%e2%80%98undian%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/8000ff9a39b51fd0dba25c9beb92cdb0?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Guru Kumai</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
